Awal Tahun Baru China
IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia ~> Awal Tahun Baru China dimanfaatkan seluruh warga Tionghoa untuk sembahyang di vihara dan bersilaturahmi dengan kerabat.
Prosesi tersebut digelar setelah pada malam harinya, mereka berdoa memohon berkah kepada Dewa Rezeki. Di Vihara Dharma Ramsi,Jalan Cibadak; dan Vihara Satyabudhi, Jalan Klenteng, ratusan warga Tionghoa sembahyang memohon kebaikan untuk satu tahun ke depan. Kedua vihara tersebut ramai sejak pagi hingga sore. Selain menyalakan lilin berukuran besar dan kecil, umat juga menyalakan hio atau dupa sebagai pengantar doa kepada para dewa. Lilin bagi masyarakat Tionghoa merupakan sumber cahaya yang mengartikan masa depan yang cerah. Prosesi sembahyang pun berlangsung khidmat. ”Kami sengaja datang lebih pagi agar siang harinya bisa berkunjung ke rumah saudara,” ujar Setiadi,warga Tionghoa ditemui di Vihara Satyabudhi.
Dia datang bersama istri dan kedua anaknya untuk sembahyang memohon agar para dewa memberi berkah bagi keluarganya dan terhindar dari segala bahaya.Bagi mereka, tradisi berkunjung sambil memberi angpau sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam.Tradisi tersebut seolah menjadi keharusan sebagaimana budaya mudik bagi umat Islam saat Lebaran. Menurutnya, di Tiongkok berkunjung ke kerabat seiring jeda dua musim antara kemarau dan penghujan.Dua musim itu dipisahkan Tahun Baru Imlek dan dimulai pada perayaan Cap Go Meh setelah 15 hari pasca-Tahun Baru. Tradisi memberi angpau juga bagian dari tradisi warga Tionghoa.
Angpau berwarna merah melambangkan sebuah kebahagiaan. ”Angpau adalah simbol kesuksesan seseorang ketika pulang kampung. Angpaudiberikankepadaorangtua atau saudara yang dianggap belum memperoleh penghasilan cukup,” kata Eric Mintarja,warga Tionghoa di Vihara Dharma Ramsi. Pada TahunBaruImlek,pihaknya menyiapkan lebih dari 40 lilin berukuran besar dan puluhan lilin berukuran kecil. ”Khusus lilin, kami membuatnya sendiri sejak beberapa hari lalu,” ucapnya. Lilin tersebut akan menyala sejak malam pergantian tahun hingga selesai.
Sebuahlilin berukuran besar diperkirakan menyala kurang dari satu bulan. Seperti sudah menjadi budaya, saat perayaan Imlek,pengemis dan pedagang kaki lima (PKL) selalu memenuhi klenteng. Kondisi itu terlihat di Vihara Satyabudhi,Jalan Klenteng,Kota Bandung.”Sudah dua hari ini mencari sedekah di vihara hanya dapat Rp10.000,padahal biasanya sehari bisa dapat Rp50.000,” ujar Eni,warga Jalan Pagarsih.
Prosesi tersebut digelar setelah pada malam harinya, mereka berdoa memohon berkah kepada Dewa Rezeki. Di Vihara Dharma Ramsi,Jalan Cibadak; dan Vihara Satyabudhi, Jalan Klenteng, ratusan warga Tionghoa sembahyang memohon kebaikan untuk satu tahun ke depan. Kedua vihara tersebut ramai sejak pagi hingga sore. Selain menyalakan lilin berukuran besar dan kecil, umat juga menyalakan hio atau dupa sebagai pengantar doa kepada para dewa. Lilin bagi masyarakat Tionghoa merupakan sumber cahaya yang mengartikan masa depan yang cerah. Prosesi sembahyang pun berlangsung khidmat. ”Kami sengaja datang lebih pagi agar siang harinya bisa berkunjung ke rumah saudara,” ujar Setiadi,warga Tionghoa ditemui di Vihara Satyabudhi.
Dia datang bersama istri dan kedua anaknya untuk sembahyang memohon agar para dewa memberi berkah bagi keluarganya dan terhindar dari segala bahaya.Bagi mereka, tradisi berkunjung sambil memberi angpau sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam.Tradisi tersebut seolah menjadi keharusan sebagaimana budaya mudik bagi umat Islam saat Lebaran. Menurutnya, di Tiongkok berkunjung ke kerabat seiring jeda dua musim antara kemarau dan penghujan.Dua musim itu dipisahkan Tahun Baru Imlek dan dimulai pada perayaan Cap Go Meh setelah 15 hari pasca-Tahun Baru. Tradisi memberi angpau juga bagian dari tradisi warga Tionghoa.
Angpau berwarna merah melambangkan sebuah kebahagiaan. ”Angpau adalah simbol kesuksesan seseorang ketika pulang kampung. Angpaudiberikankepadaorangtua atau saudara yang dianggap belum memperoleh penghasilan cukup,” kata Eric Mintarja,warga Tionghoa di Vihara Dharma Ramsi. Pada TahunBaruImlek,pihaknya menyiapkan lebih dari 40 lilin berukuran besar dan puluhan lilin berukuran kecil. ”Khusus lilin, kami membuatnya sendiri sejak beberapa hari lalu,” ucapnya. Lilin tersebut akan menyala sejak malam pergantian tahun hingga selesai.
Sebuahlilin berukuran besar diperkirakan menyala kurang dari satu bulan. Seperti sudah menjadi budaya, saat perayaan Imlek,pengemis dan pedagang kaki lima (PKL) selalu memenuhi klenteng. Kondisi itu terlihat di Vihara Satyabudhi,Jalan Klenteng,Kota Bandung.”Sudah dua hari ini mencari sedekah di vihara hanya dapat Rp10.000,padahal biasanya sehari bisa dapat Rp50.000,” ujar Eni,warga Jalan Pagarsih.